Berwakaf Solusi Umat


Tuesday, 11 November 2014 10:00

Suatu saat Umar bin Khattab, Sahabat Rasulullah SAW memperoleh sebidang tanah di Khaibar. Lantas ia mendatangi Rasulullah dan berkata: “Aku telah mendapatkan sebidang tanah yang paling berharga, maka apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?” Rasulullah bersabda, “Jika engkau menghendaki, wakafkanlah tanah itu (engkau tahan tanahnya) dan sedekahkan hasilnya”.

 

Kemudian Umar menyedekahkan hasilnya. Sungguh tanah ini tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan dan tidak boleh diwariskan, tetapi diinfakkan hasilnya untuk orang-orang fakir-miskin, kerabat, untuk membebaskan budak, untuk kepentingan di jalan Allah, menjamu tamu dan untuk ibnu sabil. Tidak ada dosa bagi yang mengurusinya, jika dia memakan sebagian hasilnya secara ma’ruf, atau memberi makan temannya tanpa menimbun hasilnya. (HR. Bukhari no. 2565, Muslim no. 3085).

 

Inilah contoh kisah teladan sahabat Rasul dalam mendermakan hartanya di jalan Allah. Beberapa ulama menyebutkan bahwa kisah yang dialami Umar ini adalah kisah pertama yang menjelaskan masalah wakaf dalam Islam.

 

Sebagaimana kita ketahui para sahabat berlomba-lomba mendermakan hartanya. Misalnya ketika terjadi perang Tabuk pada tahun 9 Hijriyah para sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Ashim bin Adiy dan Thalhah bin Ubaidillah mendermakan hartanya dalam jumlah banyak.

 

Para sahabat berkeyakinan bahwa harta yang sesungguhnya adalah harta yang didermakan untuk Islam, bukan harta yang dimiliki untuk kesenangan sendiri di dunia. Harta yang didermakan ini akan menuai hasilnya di akhirat kelak. Bahkan tidak jarang saat di dunia pun sudah terasa keberkahannya.

 

Manusia tidak akan selamanya hidup di dunia, maka ketika ajal menjemput terputuslah amalnya. Namun ada tiga amalan yang pahalanya tidak putus yaitu seperti yang disampaikan Rasulullah “Apabila anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya, kecuali tiga yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR.Muslim 3084)

 

Dan apa yang dilakukan Umar adalah salah satu bentuk jariyah berupa wakaf yang pahalanya akan terus mengalir selama harta itu bermanfaat. Syaikh Ali Bassam berkata, “Yang dimaksud dengan sedekah jariyah dalam hadits ini adalah wakaf.”

 

Alhamdulillah Wakaf kini menjadi pilihan solusi atas beragam permasalahan bagi Umat diseluruh dunia termasuk di Indonesia, oleh karenanya dilandasi pemahaman tersebut perkebangan wakaf di Indonesia juga terus mengalami fase pemantapan, salah satunya dengan dibentuknya Badan Wakaf Indonesia (BWI) untuk mengoptiomalkan potensi perwakafan di Indonesia serta telah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No 42 tahun 2006 tentang pelaksanaanya, landasan lembaga nasional dan juga piranti hukumnya menjadi angin segar dalam pengembangan potensi umat ke depannya.

 

Al-Azhar sebagai salah satu lembaga pendidikan dan dakwah juga mengambil inisiatif untuk mengembangkan potensi wakaf mejadi sebuah sumber ekonomi bagi umat Islam di Indonesia, dengan berkaca pada beberapa pengalaman di luar negeri termasuk Mesir yang memiliki aset wakaf begitu besar, Yayasan pendidikan Islam Al Azhar melalui Wakaf Al Azhar terus berkonsentrasi untuk melakukan pengelolaan amanah aset wakaf di berbagai sektor strategis, untuk hasilnya ditujukan bagi pembangunan umat di bidang pendidikan dan pengembangan dakwah.

 

Mari kita berlomba-lomba untuk berwakaf karena inilah investasi yang hakiki, segera hubungi (021) 7234624, 71606355, email sahabat@wakafalazhar.com atau kunjungi website: www.wakafalazhar.com untuk berwakaf sekarang juga bersama Al-Azhar.