Ketua Pembina YPI Al Azhar, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH. MH., Senin, 25 Agustus 2025 kembali menyampaikan keyakinannya bahwa pada tahun 2070 Umat Muslim akan menjadi mayoritas di dunia. Perkembangan umat Islam dewasa ini mulai ada tanda-tanda yang menggembirakan.
“Sebagai contoh,” kata Prof. Jimly, “Perserikatan Bangsa Bangsa pada tahun 2022 telah menetapkan tanggal 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia. Hal ini merupakan fenomena luar biasa bagaimana penilaian dunia barat terhadap agama Islam berbalik 180 derajat. Ketetapan PBB ini telah memberikan dampak signifikan bagi perkembangan umat muslim dunia.
Masjid Agung Al Azhar yang dikenal sebagai Masjid Perjuangan, karena banyak tokoh nasional dan partai besar memulai perjuangannya dari Masjid Agung Al Azhar ini merasakan dampaknya. Masjid Agung Al Azhar, saat dibangun adalah masjid terbesar di Jakarta Raya. Masjid Agung Al Azhar kini telah memiliki hampir 300 sekolah tersebar di seluruh Indonesia.
“Bukan Sekolah atau Kampus yang memiliki masjid, tetapi Masjid Agung Al Azhar yang memiliki sekolah dan kampus,” Prof. Jimly berseloroh. Lebih lanjut beliau menambahkan bahwa jika dihitung dari sejak masjid ini berdiri, tidak kurang dari 100.000 orang diislamkan di Masjid Agung Al Azhar ini. Oleh karena itu,Prof. Jimly menyampaikan perlunya perubahan metode dakwah kita, dari yang konvensional kepada dakwah yang sesuai dengan era sekarang, seperti dakwah melalui podcast-podcast.
Di hadapan peserta Islamic Sharing Session yang menghadirkan Angelina Sondakh sebagai narasumber, Prof. Jimly mengharapakan kepada semua pihak untuk terlibat dalam kegemilangan masa depan umat melalui Masjid Agung Al Azhar. Setelah melalui berbagai cobaan hidup, baik ketika menjadi artis atau politikus, Angelina Sondakh yang akrab disapa Angie itu kini telah menjadi inspirator bagi banyak orang. Oleh karena itu, Prof. Jimly berharap agar Angelina Sondakh bisa bergabung dengan Al Azhar memajukan dan mengembangkan umat Islam. Terutama kepada mereka-mereka yang menjalankan pernikahan lintas negara. Sebagian besar dari mereka membutuhkan pencerahan dengan metode yang lebih efektif sesuai dengan suasana kekinian.
Bagaimana kalau Masjid Agung Al Azhar menjadi “Muallaf Centre”?
