Ribuan Jamaah laksanakan Sholat Idul Fitri 1445 H di Masjid Agung Al Azhar

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lailahailallahu Allahu Akbar. Allahu Akbar, wa lillahilkhamd.”
Gema takbir, tahlil, dan tahmid berkumandang di Masjid Agung Al Azhar usai shalat Magrib, Selasa 9 April 2024 setelah pemerintah menetapkan 1 Syawal 1445 Hijriah jatuh pada Rabu (10/4/2024). Gema itu terus berkumandang hingga pagi 10 April 2024, mengiringi langkah kaki para jamaah untuk melaksanakan Sholat Iedul Fitri 1445 H di lapangan Kompleks Masjid Agung Al Azhar. Iedul Fitri bagi umat Islam sebagai hari kemenangan melawan hawa nafsu selana satu bulan dengan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan 1445 H. Kemenangan itu dirayakan dengan senantiasa mengagungkan, mentauhidkan, dan memuji Allah Swt.

Jamaah masjid Agung Al Azhar bergegas untuk mengikuti Kegiatan Sholat Iedul Fitri 1445 H di lapangan Komplek Masjid Al Azhar. Terdapat tidak kurang dari 1.000 jamaah membanjiri lapangan rumput Masjid Agung Al Azhar. Tampak hadir beberapa tokoh masyarakat di tengah jamaah itu, di antaranya mantan Wakil Presiden RI (2014–2019) Dr. Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, mantan Wakil Mentri ESDM (2016–2019) Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D., mantan Mentri Pemuda dan Olah Raga (2004-2009) Dr. H. Adhyaksa Dault, S.H., M.Si., serta mantan Hakim MK dan Juga Ketua Pembina YPI Al Azhar Prof. Dr. H. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H.

Dalam kegiatan Sholat Iedul Fitri 1445 H kali ini bertindak sebagai imam adalah DR. H. Agus Nurqowim, S.Q, M.PD.I dan bertugas sebagai khatib kali ini adalah DR. KH. Zahrudin Sultoni, MA., dengan tema khutbah “Kembali Suci”.

Berikut ini kutipan khutbah yang disampaikan Ustadz Zahrudin Sulthoni yang juga Ketua YPI Bidang Dakwah dan Sosial.

” Baru saja kita lewati bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan. Bulan yang memberikan kenangan yang indah.

Bulan yang mengguratkan cinta dan kasih antara hamba dan Sang Penciptanya. Bulan di mana pintu-pintu surga terbuka lebar dan pintu-pintu neraka tertutup rapat. Bulan yang mendatangkan kebahagian bagi orang-orang yang beriman. Itulah bulan Ramadhan.”

“Namun, Ramadhan telah berlalu dan berlalu. Ramadhan telah pergi meninggalkan kita untuk 11 bulan yang akan datang. Oleh karena itu untuk menyempurnakan kebahagiaan kita hari ini, mari kita berbagi kebahagiaan itu kepada orang-orang yang kita cintai, orang-orang yang beberapa saat lalu masih bersahur dan berbuka bersama kita. Orang-orang yang saat itu masih bersama kita shalat tarawih, atau shalat ied di sini. Tapi kini mereka telah tiada untuk pergi dan takkan pernah kembali. Mereka telah menuju keharibaan ilahi.”

“Marilah kita kenang wajah-wajah mereka. Mari kita bayangkan ayah bunda kita. Kita masih teringat guratan wajahnya. Kita masih teringat akan senyumnya. Kita masih ingat akan kata-katanya. Tapi semuanya telah tiada, Mereka telah tiada untuk selama-lamanya. Hari ini, Mari kita bayangkan ayah bunda kita tersenyum
menyaksikan kita shalat ied di tempat ini. Seakan-akan mereka berseru, ” Wahai anakku, aku bahagia melihat kalian, yang telah
tunaikan puasa, shalat tarawih, bertadarus, berinfak, dan
berzakat. Aku bahagia melihat wajah-wajah kalian berseri-
seri. Sungguh, Nak, aku bahagia meski aku tak bersamamu
lagi. Anakku, kalian telah menjadi anak-anak harapanku.
Kalian telah menjadi anak-anak yang saleh dan shalehah.
Kalian telah menjadi anak-anak yang berbakti. Kalian telah
menjadi anak-anak yang taat beragama. Wahai anak-anak ku, aku bahagia menyaksikanmu.”

Di bagian akhir khutbahnya, Khotib menutupnya dengan berdoa, “Ya Allah, sekiranya masih ada dosa yang tersisa selepas Ramadhan ini, kami mohon kepada Mu agar Engkau ampuni dosa-dosa kami, maafkan segala kesalahan kami, ampuni dosa dan kesalahan ayah bunda kami, baik yang masih ada maupun telah tiada. Anugerahkan kepada kami kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Jauhkan kami dari azab neraka-Mu. Terimalah doa kami sesunggunya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Penerima Doa”.